Tiga mangkuk Cannabis

*cerita ini hanya fiktif belaka, kesamaan nama tokoh, tempat, dan waktu hanyalah kebetulan sehidung

(1) Cannabis; sejenis makanan penyambung hidup

(2) Sarang; kedai kecil tempat berjualan Cannabis

(3) Perkamen; lembaran yang digunakan untuk menulis

(4) Tail; mata uang yang berlaku di kota Ju-On dan sekitarnya


Semenjak Gubernur Tjah Hok menerapkan berbagai aturan tata kota  yang dipimpinnya, kota  Ju-On, banyak pedagang kaki dua yang biasanya berjualan Cannabis(1) di tepi jalan, demi menafkahi istri baru, kini banyak yang tergusur. Beberapa pedagang tampak hilang begitu saja. Beberapa pedagang lainnya diketahui berpindah ke Sarang(2) yang lebih layak.

Bagi prajurit kelas teri seperti Xiao Ti, Yu Yan, dan Da Sun, hal ini tentunya menyulitkan. Bagaimana tidak, sehari-hari, sebelum bertugas jaga, mereka terbiasa mengisi perutnya di Sarang para pedagang yang sudah menjadi langganan. Semenjak para pedagang ini tergusur, mereka kesulitan menemukan Cannabis yang nikmat dan harganya pas.

Untungnya, pagi ini, ketiga prajurit tersebut menemukan salah satu pedagang Cannabis yang memang terkenal enak dan murah, yakni Sarang Ya Min. Dipandu Yu Yan, mereka bertiga memasuki Sarang Ya Min, dan langsung memesan 3 mangkuk Cannabis. Dalam sekejap, Xiao Ti dan Da Sun menghabiskan bagian mereka. Sedangkan Yu Yan, terlihat santai dan meresapi setiap sendok Cannabis yang masuk ke rongga mulutnya. Sebenarnya, pikiran Yu Yan tidak sungguh-sungguh tertuju pada Cannabis di hadapannya. Dia seperti ada di tempat lain.

Xiao Ti: “Yu Yan, apa yang kau kepit di ketiakmu itu?”

Yu Yan: “Oh….ini, ini….lembar perkamen(3) yang aku tulis tadi malam.”

Xiao Ti: “Tulis? Tulisan macam apa yang kau buat? Bukankah tadi malam kau bertugas menjaga menara bagian Selatan?”

Yu Yan: “Oh, tadi malam Da Sun menggantikan aku. Kau tahu, perkamen ini berisi tulisan yang sangat penting, hendak aku kirim ke Kementrian Istana, mereka mengadakan sayembara cinta.”

Da Sun: “Sayembara cinta?? Kau tidak menyebut apa-apa tentang cinta padaku tadi malam!”

Yu Yan: “Ini bukan tentang cintaku padamu. Ini tentang….kisah cintaku yang lalu, pada cendekiawan dari negeri Mah Lung. Perkamen ini, adalah puisi tentang kami, puisi yang membawa tangis pada yang membacanya.”

Xiao Ti: “Imbalan apa yang kau dapat, kalau puisi yang kau tulis menang?”

Yu Yan: “5000 Tail. Tapi bukan hanya imbalan yang membuatku mengikuti sayembara ini. Jika aku menang, kau bayangkan, akan ada banyak cendekiawan-cendekiawan yang membaca tulisanku ini. Mereka para cendekiawan yang cerdas, tapi buta akan cinta. Mereka perlu belajar dariku.”

Da Sun: “Semangkuk Cannabis yang kuhabiskan barusan terasa hambar, mendengar kau mengatakan itu semua. Kau tidak pernah menulis puisi apapun tentang kita.”

Xiao Ti: “Yu Yan, kalau kau menang karena puisi tentang cintamu di masa lalu, itu bagus. Tapi sekarang ada Da Sun, jangan lupa kalau dia akan jadi puisi tentang masa depanmu.”

Setelah meninggalkan 40 tail di meja, ketiga prajurit meninggalkan Sarang Ya Min. Tiga mangkuk kosong Cannabis, menjadi saksi bisu bagi hati Da Sun yang teriris, hati Yu Yan yang belum bisa move-on, dan pikiran Xiao Ti yang asik berhitung, berapa ekor kuda yang bisa ia beli dengan 5000 Tail.

What do you think? Leave a Comment Below.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Up ↑

%d bloggers like this: