Mr. W dan Uang 5 JT

Beberapa saat yang lalu, gw menerima SMS dari, sebut saja Mr. W.

Yes, yang gw terima SMS, bukan Whatsapp, bukan BBM, LINE, maupun cucu cicitnya. Dari sini pembaca bisa menduga beberapa hal:

a. Quota paket data Mr. W habis

b. Mr. W menggunakan iMessage, dan diterima HP gw dalam bentuk SMS

c. Mr. W tidak tahu nomor HP gw bisa Whatsapp, atau tidak tahu PIN BB/ID LINE gw

d. Mr. W tidak punya account Whatsapp, BBM, apalagi LINE

e. Jawaban a,b,c, dan d benar semua

Jawaban yang benar adalah d (jadi kangen sekolah lagi hahaaa..).

Mr. W menggunakan handphone yang tidak memadai untuk menggunakan aplikasi chatting. Mr. W termasuk orang yang berkecukupan, dikaruniai 2 orang anak. Anak sulungnya adalah seorang putra dan sedang menempuh pendidikan menengah atas (ini istilah jaman gw, kalo sekarang nyebutnya mungkin kelas 10/11/12). Sedangkan yang kecil seorang putri dan masih duduk di bangku TK Besar. Jauh yah selisihnya. Pendidikan terakhir yang ditempuh Mr. W adalah SMU, kurang lebih sekitar 20 tahun yang lalu.

Karena Mr.W tahu kalau gw bekerja di bidang IT, isi SMS Mr.W adalah menanyakan berapa hari biasanya perusahaan yang bergerak di bidang keuangan (misalnya Bank) melakukan maintenance sistem atau server. Berdasarkan pengalaman, kalau gw melakukan maintenance sistem, tidak pernah lebih dari 1 hari, dan biasanya hanya dalam hitungan beberapa jam, terkecuali terjadi masalah besar atau perubahan dalam skala besar. I believe it works that way for every company, especially one that provide services for customer, such as finance and banking. Bahkan, mereka harus selalu bisa diakses 24×7, sehingga saat dilakukan maintenance, sistem utama dialihkan ke sistem cadangan sementara.

Singkat cerita, gw merespon SMS Mr.W dan memberitahu maintenance sistem tidak lebih dari 1 hari, terkecuali ada kendala yang tidak bisa diatasi oleh perusahaan tersebut.

Usut punya usut, ternyata oh ternyata, Mr.W sedang menantikan transfer dana dari “bisnis” yang sedang diikutinya, yang sudah telat beberapa waktu karena alasan maintenance sistem. Setelah gw tanya lebih lanjut, Mr. W tidak sadar ia terjebak dalam “bisnis” yang sudah diklaim OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sebagai bisnis bodong, yakni Dream For Freedom (alias D4F).

Buat yang sudah pernah dengar D4F, mungkin sudah mengetahui kalau sistem D4F ini, intinya adalah memutar duit anggota sedemikian rupa dan menjanjikan keuntungan berlipat ganda dalam waktu singkat. Sebagai contoh yang diikuti Mr.W, beliau menginvestasikan dananya 5 juta. Setiap 17 hari, seharusnya Mr. W menerima 950rb, terus seperti itu sebanyak 14 kali. Keuntungan Mr. W sebagai berikut:

Modal:  5.0000.000

Pemasukan: 950.000 x 14 = 13.300.000

Keuntungan: 8.300.000 (WOW…awesome!)

WAHAI PEMBACA, TIDAK ADA JENIS USAHA ATAU BISNIS YANG AKAN MEMBERI KITA KEUNTUNGAN SEBANYAK ITU DALAM TEMPO BEBERAPA BULAN HANYA DENGAN KITA MENANAM MODAL 5 JUTA TANPA MELAKUKAN APA-APA, TERMASUK HANYA DENGAN MEREKRUT ANGGOTA.

Dengan rasa iba, gw membalas SMS Mr. W, dan memberi tahu hal yang gw tulis tebal-tebal di atas, tentunya dengan cara yang lebih halus. Gw juga menjelaskan ke Mr. W kalau masalah ini sudah banyak dibahas di beberapa situs. Sebetulnya yang membuat gw merasa lebih iba adalah, masih sangat banyak masyarakat Indonesia yang akan mengalami hal seperti ini.

Tuntutan yang dihadapi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama mereka yang berada di kalangan pas-pasan, seringkali membuat mereka tidak berpikir panjang. Kalau orang bilang cinta itu buta, harta juga punya efek yang sama.  Dalam hal ini, bukan Mr.W saja yang buta, tetapi D4F juga buta karena harta. Demi meraup keuntungan mereka tidak berhenti mencari mangsa dengan memanfaatkan kalangan yang tidak tahu apa-apa. Namun bukan faktor tuntutan ekonomi saja, kebutaan itu juga berdasarkan kurangnya pengetahuan seseorang.

I know, ini semua lagu lama, issue lama. Tapi tetap aja gw pengen nulis ini, yah suka-suka dong, ini kan blog gw (#nyolot).

Uang adalah alat pembayaran yang sah, yang diciptakan dan diatur oleh manusia. Dan sejak itu, manusia tidak berhenti mencari uang, untuk memenuhi kebutuhannya. Kalau kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi, manusia berusaha meningkatkan kualitas hidupnya dengan uang. Untuk meningkatkan kualitas hidupnya, manusia banyak belajar, dan memperoleh banyak pengetahuan. Dan seiring dengan bertambahnya pengetahuan, imajinasi dan keinginan manusia pun akan bertambah lagi. Kalau kita tidak tahu bunga Sakura di Jepang itu indah, kita tidak mungkin punya keinginan kesana untuk melihatnya. Kalau Wayan Mirna Salihin tidak tahu Kopi Vietnam di Kafe Olivier itu enak, dia tidak mungkin minta Jessica untuk memesan minuman itu. Lho, kejauhan contohnya. Kalau kita tidak tahu akan sesuatu, kita tidak mungkin menginginkannya. Karena timbul keinginan yang lebih besar, kita  membutuhkan uang lagi, dan kita mencarinya lebih giat lagi.

Gw pernah bilang ke seorang teman, ini seperti lingkaran setan, tidak ada ujungnya. Tidak heran kalau dibilang, akar dari segala kejahatan adalah uang, yang sekali lagi, dibuat oleh manusia sendiri. We’re chasing something and living in the system made by ourselves. Kalau dalam bahasa pemrograman, istilahnya looping forever.

Dan menutup artikel opini ini, lagu Yellow terdengar dari laptop gw….look up the star, look how they shine for you, in all the things you do.

What do you think? Leave a Comment Below.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Up ↑

%d bloggers like this: