//
you're reading...
Cerpen

Bertemu Punggung

chinesse teaDengan langkah pasti dan hati-hati, pelayan wanita itu berjalan menghampiri sebuah meja. Semangkuk Bubur ditemani sepoci Chinesse Tea, disajikannya di atas meja kayu yang baru saja dibersihkan.

Uap panas bubur menari ceria di permukaan mangkuk. Taburan daun bawang bercampur potongan telur phitan membuat aroma khas bubur seakan memanggil untuk disantap. Tidak mau kalah, wangi lembut Chinesse Tea yang pecah merekah saat dituangkan ke gelas kecil, alangkah sempurnanya pasangan ini.

“Hoaaaaammmmm….hmmm…..erhmm…erhmm..!”

“Tea, Tea! Lihat itu! Bukan sebelah situ, ituuu…suara berdehem di belakang kita.”

“Oh, astaga! Aku rasa aroma kita membangunkannya!”, Tea berujar sambil tertawa kecil.

Tidak jauh dari mereka, sesosok Punggung terbangun, masih sedikit mengantuk tampaknya. Kuatir dibilang tidak sopan, karena temannya hanya tertawa, Bubur segera menyapa duluan.

“Ehmm..Hi, Selamat Pagi!! Atau mungkin…sedikit agak…Selamat Siang!
Tampaknya kami membangunkan Anda, maafkan kami.”

“Oh, yah, Hi! Selamat Siang juga. Senang berjumpa kalian lagi”, Punggung berbalut baju hitam menyahut.

“Lagi? Apa kita pernah berjumpa sebelumnya? Anda tampak asing buat saya. Ngomong-ngomong saya Tea, teman saya yang agak kaku ini, Bubur. Senang berkenalan dengan Anda…ehh, maaf nama Anda?”

“Oh iya, maaf, saya lupa. Saya Punggung. Saya rasa, kalian semua serupa, jadi saya merasa kita sudah lama kenal. Lebih tepatnya, 3 tahun, 7 bulan, 2 hari, dan 11 jam. Akhir-akhir ini, Nyonya saya selalu datang ketempat ini. Mau tak mau, karena saya dan Nyonya saya tidak terpisahkan, saya jadi tidak asing lagi dengan segala sesuatu di tempat ini. Kalian salah satu pasangan yang sering saya temui selama duduk disini. Saya rasa kalian hidangan primadona. Nyonya saya, dan putranya, selalu memesan kalian.

“Oww, terima kasih Punggung, senang bila rasa kami bisa memuaskan pengunjung. Tetapi…saya lihat kamu sendirian. Apakah Nyonyamu sedang menanti seseorang? Kamu terlihat agak letih, berapa usiamu? Apa kamu habis melakukan perjalanan jauh? Apakah kamu mau menegukku barang sedikit? Mungkin bisa membuatmu lebih segar?”

“Hahahaaa…mana bisa saya meminum kamu. Tidak perlu repot-repot, tampaknya kami sudah 1 jam disini. Seharusnya perhitungan saya tidak salah, dalam 2 menit Nyonya akan membayar pelayan dan saya akan menemaninya ke tempat lain. Selalu seperti itu tiap hari. Lagipula, letih di wajah ini, tidak bisa dihilangkan oleh apapun.” Raut wajah Punggung tiba-tiba berangsur sedih. Tatap matanya menerawang entah kemana.

“Ssstt..Tea, tampaknya dia tiba-tiba melamun.” Bubur berbisik-bisik.

“Iya kamu benar, kalau melihat dari posturnya, perkiraan saya dia berusia 50 tahun, tapi wajahnya seperti 70 tahun!”

“Ah sok tahu kamu. Tapi saya pikir, mereka sedang menunggu putra sang Nyonya, tadi dia bilang Nyonya dan putranya sering memesan kita.”

“Bagaimana kamu bisa berpikir, kamu tidak punya otak Bur. Apa kamu tidak menyimak tadi. Beberapa saat lagi mereka akan meninggalkan tempat ini. Mana mungkin putra Nyonya datang lalu makan dan minum dalam sekejap.”

“Bagaimana saya bisa menyimak, saya juga tidak punya telinga”, ujar Bubur sedikit kesal.

Perdebatan Bubur dan Tea tiba-tiba terpotong oleh suara di belakang mereka.

“Ambil saja kembaliannya, Terima Kasih!”
“Terima kasih kembali Nyonya! Hati-hati dijalan.” Pelayan pria menyahut sambil sedikit membungkukkan kepala kepada sang Nyonya.

“Tea, Bubur, saya jalan dulu. Saya harap kita bisa berbincang lebih lama. Andai saja saya tidak tertidur tadi, mungkin saya memang terlalu lelah. Lain waktu yah…hmm..tapi saya rasa kita tidak akan berjumpa lagi lain waktu. Usia kalian hanya beberapa menit. Lain waktu, saya akan berusaha tidak tidur dan bercerita lebih banyak pada kembaran kalian.”

Bubur mengamat-ngamati, ketika Nyonya sang Punggung memasukkan dompet dan selembar foto pria muda kedalam tas hitam yang dibawanya. Lalu Punggung dan Nyonya-nya itu hendak beranjak dari kursi.

“Punggung! Tunggu! Setidaknya, beritahu kami, kenapa kamu tampak sedih!??” Tea setengah berteriak.

“Saya tidak sedih, hanya terlalu banyak berpikir. Kalau saja…kehadiran saya dalam hidup Nyonya singkat saja, hari ini ada, lalu lenyap dalam beberapa menit. Hanya beberapa menit, tetapi memberi rasa yang menyenangkan baginya, persis seperti kalian.”

“Apa salahnya dengan kehadiran seumur hidup Nyonyamu? Setidaknya kamu bisa bertemu banyak orang dan banyak berkisah bukan?” Bubur tampak kebingungan. Apalagi dia sudah mulai teraduk-aduk untuk disantap.

“Kamu tidak tahu rasanya jadi Punggung. Tidak bisa menentukan apa yang Nyonya rasakan dalam hatinya, tidak bisa membatasi apa yang dipikir dalam kepalanya. Bahkan saat saya begitu letih, ingin sekali menghalangi langkahnya dan berteriak:”Hentikanlah Nyonya…!!”. Tapi saya tidak bisa…saya tidak sanggup menyaksikan kisah hidupnya yang ini…”

Suara Punggung memudar seiring laju Nyonya meninggalkan meja. Belum sempat memahami apa yang baru didengarnya, dalam hitungan detik, sebuah mulut menyeruput Tea habis sampai ke dasar gelas.

About cst

i am who i am.

Discussion

No comments yet.

What do you think? Leave a Comment Below.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: