Yang Pertama

Dua ratus lima puluh gram tepung terigu, tiga puluh gram tepung tapioka, alias sagu. Keduanya aku campur dalam wadah plastik murahan, lalu kuaduk rata. Kemudian, dua butir telur ayam negri, aku pecahkan satu persatu ke tengah gundukan tepung tadi. Sebagian putih telur ayam kedua, aku sisihkan ke dalam mangkuk beling. Putih telur yang tersisihkan itu tidak ada hubungannya dengan adonan yang hendak aku buat. Nanti, akan kugunakan sebagai “obat oles” hidung. Menurut sebuah artikel yang aku baca di internet beberapa waktu yang lalu, putih telur ini dapat mengangkat komedo. Tidak ada salahnya dicoba.

Dengan gaya seolah-olah pembuat adonan profesional, aku mulai mengaduk tepung dan telur dengan kedua tanganku. Adonan yang tadinya tercerai-berai, lama kelamaan mulai menyatu menjadi satu gundukan yang lekat. Konon katanya, telur digunakan sebagai bahan perekat bangunan di jaman purbakala, ketika manusia belum mengenal semen. Batu saja bisa direkatkan oleh telur, apalagi hanya tepung.

Waktunya penyedap rasa. Satu sendok makan kaldu cair, tiga sendok makan minyak bawang, air putih secukupnya, aku aduk menjadi satu. Perlahan aku tuangkan campuran tersebut kedalam adonan tepung yang sudah pulen. Dengan semangat, kembali kuremas adonan agar merata dan semakin lekat. Setelah tampak rata, aku tutup adonan dengan bungkus plastik selama kurang lebih 20  menit. Sementara itu, aku mulai membersihkan mesin pemotong mie yang lama tak dipakai kakakku. Entah apa bisa aku sebut itu mesin, karena tidak ada motor di dalamnya. Bentuknya yang kecil, dan cukup digerakkan oleh tangan. Aku pinjam mesin itu kemarin. Kalau bukan karena kehadiranku, mungkin nasibnya hanya menunggu karat menjemput.

Setelah sekian menit berlalu, aku keluarkan adonan dari bungkus plastik. Di sebelah kiriku, aku siapkan setumpuk sagu. Adonan kuambil sebagian, aku tekan sedikit agar tidak terlalu tebal, lalu kuletakkan di mulut mesin pemipih adonan. Setelah kusetel ketebalan yang aku mau, tangan kiriku menekan adonan pada mulut mesin agar tidak jatuh, sambil tangan kananku memutar mesin agar adonan bergerak masuk. Perlahan, bentuk adonan yang tipis keluar dari bawah mesin. Seperti anak kecil mendapat permen, demikian aku merasa senang melihat adonanku menjadi pipih, dan tidak putus-putus. Sambil mendengar celotehan kakakku tentang bagaimana ia melihat pembuat mie di seberang rumah, aku ikuti sarannya. Sedikit demi sedikit, aku taburkan sagu ke atas adonan pipih yang digelar memanjang di atas kertas koran bekas. Supaya tidak lengket, katanya.

Tak sabar memipihkan semua adonan, langsung saja aku masukkan adonan yang sudah pipih ke bagian pemotong mie. Aku pindahkan pemutar mesin ke bagian pemotong, lalu perlahan aku putar. Dari bawah, perlahan keluar adonan dalam bentuk kecil memanjang layaknya mie yang aku liat di tukang-tukang mie ayam gerobakan. Bravo! Resmi sudah aku berhasil membuat mie mentah. Dengan cekatan, kembali aku raub sedikit sagu, dan aku taburkan di atas mie kecil yang baru lahir itu. Dengan bangganya, aku tunjukkan hasilku kepada kakakku dan ibuku. Mereka ikut senang melihat senyum dan semangatku.

Dan tentu saja, aku menjadi orang pertama yang mencoba memasak dan mencicipinya. Rasanya? Tidak perlu dipertanyakan. Sangat standar.

Untuk kali pertama membuat mie, tidak terlalu buruk, pikirku.

What do you think? Leave a Comment Below.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Up ↑

%d bloggers like this: