//
you're reading...
Opini

TNKB Oh TNKB …

Akhir bulan April lalu Miss A sudah merasa bosan dengan motor lamanya. Pucuk dicinta ulam tiba, ternyata tetangga Miss A sedang mencari-cari tipe motor second sesuai tipe motor Miss A, yakni motor underbone kopling. Singkat cerita, terjadi transaksi jual beli antara Miss A dan sih tetangga.

Motor sudah laku, langsung Miss A browsing-browsing di internet mencari motor pengganti. Pilihan Miss A jatuh pada motor matic Yamaha X-Ride, karena modelnya yang kece, sporty, dan ‘ga pasaran’ (tidak bermaksud promosi). Tanpa basa-basi Miss A segera menuju salah satu dealer Yamaha di kotanya, dan memesan motor tersebut. Karena Miss A melakukan pembelian secara cash, sang sales motor menginformasikan bahwa pengurusan STNK motor kurang lebih sebulan, sedangkan BPKB kurang lebih 6 bulan kemudian. Standar lah ya.

Selang 3 minggu, siang-siang bolong, sang sales mengabari Miss A, STNK sudah jadi. Wow, cepat sekali!! Sore harinya Miss A langsung ke TKP. Setelah menyerahkan surat jalan dan fotokopi KTP kepada pihak Yamahong, Miss A memperoleh STNK yang masih gress, tidak lupa mbak-mbak Yamahong nya sambil tersenyum berucap: “Plat-nya masih belum keluar yah Mbak.” DOEEENGGGG. Pengalaman Miss A membeli motor di Jakarta, kalau STNK keluar, yah sih plat (a.k.a TNKB) juga keluar. Well, karena ini di kota kecil, akhirnya Miss A memaklumi sembari bertanya: “Keluarnya kira-kira kapan?”.

Sih Mbak Yamahong: “Waah, bisa lama bangeeeet mbak, ada yang 2 tahun belum keluar….”

DOEEEEEENGGG ke-2.

Melihat ekspresi muka Miss A, sih Mbak menimpali: “Tapi kalo yang baru-baru sekarang ini bisa lebih cepat kok….nanti kalau sudah keluar kami kabari.”

Ya sutralah…….terpaksa Miss A pasrah, kalau tidak ada masa mau dipaksa? Tentunya Miss A juga paham, pihak Samsat yang bertanggung jawab mengeluarkan TNKB ini.

Karena penasaran dengan kondisi ini, Miss A mulai “kepo” nanya-nanya ke teman, tetangga, dan saudara yang membeli motor baru-baru ini. Ceritanya bervariasi, kebanyakan dari mereka membeli motor kredit, dan ada pula yang cash. Ada yang setahun belum juga keluar plat nya, ada yang 2 tahun, ada pula yang membuat plat sendiri diluar, dengan maksud tidak di “stop” Pak Polantas dan di tanya ini-itu. Sekarang Miss A baru paham, kenapa banyak motor-motor tanpa plat beredar bebas di jalan. Tadinya Miss A sudah “suudzon” bahwa mereka ini pengendara bengal yang berkeliaran di jalan padahal STNK belum terbit. Menurut teman-teman dan tetangga, sudah lumrah mengendarai motor tanpa plat, ataupun menggunakan plat nomor lama, padahal STNK 5 tahunan sudah diganti nomor baru. Pihak Polantas di daerah Miss A sudah memahami hal ini.

Karena makin penasaran (biasanya Miss A ga peduli hal-hal begini, sampai akhirnya mengalami sendiri….hehehehehee….), Miss A mencari-cari referensi di internet tentang peraturan TNKB, kasus dan pengalaman bila TNKB belum keluar.

Ternyata….menurut hukumonline.net (lagi, tidak bermaksud promosi), kendaraan bermotor yang berkeliaran di jalan tanpa plat kendaraan (Tanda Nomor Kendaraan Bermotor/TNKB) adalah melanggar undang-undang.

Lalu, bagaimana bila pembeli berinisiatif membuat plat sementara yang nomornya disesuaikan dengan STNK yang sah? Masih menurut sumber yang sama, pembuatan TNKB yang tidak diterbitkan oleh Samsat, terlebih tidak sesuai spesifikasi undang-undang (ukuran, warna, ketebalan dsb.nya) juga termasuk pelanggaran. Nah lho? Lalu kenapa di wilayah tertentu banyak tukang plat motor tidak pernah dirazia, apakah mereka punya license untuk membuat plat sesuai standar Samsat? Rasanya tidak juga….

Berhubung Miss A bukan manusia taat hukum, bahasa Sundanya….sebodo teuing lah neng’. Tetap aja Miss A tancap gas berkeliling sana-sini dengan motor baru, bahkan bolak-balik lewat di kantor patroli hueheheheeee….. Salah siapa mengeluarkan STNK tapi tidak memberi plat, padahal pada STNK jelas-jelas tertulis sejumlah rupiah yang dibayar oleh pemilik kendaraan motor. Kenapa pajak dibayar tapi TNKB tidak didapat?

Sampai sekarang Miss A masih bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang menyebabkan TNKB bisa sangat lama tidak diterbitkan untuk daerah Miss A? Dan apa hal ini terjadi di kota-kota kecil lainnya? Kalau memang TNKB di daerah menunggu penyaluran dari pusat, kenapa penyaluran bisa terhambat? Perlu dipertanyakan yang terhambat penyaluran produk atau penyaluran dananya. Kalau karena permasalahan kekurangan bahan, mengapa bisa banyak tukang plat bertengger berjualan dengan bahan mereka? Kalau hanya masalah sepele membuat plat saja tidak bisa diatasi, apa negara kita pantas disebut negara berkembang, karena kenyataannya seperti “Jalan di tempat”. Kalau karena volume pembelian kendaraan baru lebih besar dari kemampuan penerbitan TNKB, pasti ada solusinya dong? Kedondong…..

About cst

i am who i am.

Discussion

No comments yet.

What do you think? Leave a Comment Below.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: