//
you're reading...
Opini

Budaya Kredit dan Hutang

Smart reader, mari kita simak cuplikan kisah Paijo berikut, yang terinspirasi dari kisah nyata.

 

Pada suatu malam, Paijo sedang bersantai di “bale” samping rumahnya. Sambil streaming lagu-lagu favorit di Spotify, Paijo iseng menelusuri artikel-artikel menarik di 21menit.com. Selang beberapa menit, terdengar suara memanggil dari halaman depan rumah. Belum sempat beranjak ke depan, Paijo mendengar suara Ayahnya menyahut, menyambut tamu di depan. Ternyata, tamu sore itu adalah sepupu Paijo beserta istrinya. Ia sedikit heran, karena sepupunya hampir tidak pernah bertamu, apalagi bulan Ramadhan masih lama.

Karena usia mereka yang terpaut jauh, Paijo memutuskan untuk tidak nimbrung menyambut mereka. Namun berhubung “bale” Paijo bersebelahan dengan dinding ruang tamu, otomatis Paijo mendengar dengan jelas percakapan Ayah dan sepupunya tersebut.

“Pak De, ini ada ‘sedikit‘ minyak goreng sama mie instant, buat menuh-menuhin dapur”.

“Waduh, Rul, ngga…ngga…jangan repot-repot. Pak De sama Bu De di sini sudah tua, kami jarang makan-makan beginian”, tolak Ayah Paijo.

Tumben pikir Paijo, ada angin apa Bang Syahrul bawa-bawa buah tangan dari toko kelontongannya.

“Ga apa-apa Pak De, ini mah barang-barang biasa, yang namanya kita jarang silahturami, masa ga bawa apa-apa”, sahut Syahrul.

“Iya Pak, ini minyak kan Bu De suka goreng-goreng penganan buat dagangan. Wajib ini buat Ibu-Ibu di dapur”. Terdengar suara istri Syahrul nimbrung membujuk Ayah Paijo.

“Yah wizlah, ini minyak goreng saya terima. Mie instantnya dibawa lagi, buat dijual di toko lumayan, jangan boros-boros”, sahut Ayah Paijo.

Bapak ini, dari dulu ga pernah berubah, pikir Paijo. Yang namanya tamu datang niat membawa sesuatu, kurang baik jika ditolak.

“Jadi begini Pak De, kemarin kan Arul abis nganter singkong ke Banyuwangi. Nah, Senen besok ini, mobil angkutan mau pulang, Arul pikir sayang kalau ga sekalian ambil stok barang. Cuma mau ambil barang, Arul masih kurang dana sekitar 35 juta. Kalau kira-kira Pak De ada kelonggaran sedikit, nanti Arul pinjam dulu, keuntungannya kita bagi”, seloroh Syahrul tanpa basa-basi.

Owaaaaaalah, pantes. Rupanya masalah duit, ternyata minyak goreng dan mie instannya buat peluluh hati Bapak, hahahaaaaa…..Paijo geli sendiri mendengar suara sepupunya.

“Terus terang bukannya ga mau minjemin lagi nih Rul, cuma kemaren duitnya kepake buat keperluan si Udin, entah dia buat modal apa di kota”, sahut Ayah Paijo halus.

Savage Pak! Teriak Paijo dalam hati. Ternyata……Bang Syahrul uda pernah pakai duit Bapak sebelumnya. Lah, sekarang balik mau minjem lagi? Bang Syahrul punya toko di pasar, punya kontrakan 4 biji, ini gimana ceritanya dateng ke rumah Bapak mau minjem duit? Bapak sama Ibu kan sepanjang hari kerja bikin kue dan jajanan untuk dititip ke kios-kios kecil. Ini ga kebalik?

“Ow ga bisa yah Pak De. Ini sebenernya, Arul buat ngangkut barang dari pabriknya langsung di Banyuwangi. Kalau Arul bisa beli stok cukup, lumayan nanti hasilnya Arul bagi ke Pak De”, bujuk Syahrul lebih lanjut.

“Riba ah Rul, Pak De sudah tua, ga mau yang gitu-gitu. Kalau memang ada Pak De kasih pinjam pasti”, tolak Ayah Paijo berusaha halus.

“Ga apa Pak De, ini kan kita ga nentuin persen-persenan kayak orang bank. Ini mah bisnis murni kita bagi hasil biasa Pak De. Arul sebenernya bukan ga mau pinjam ke bank Pak De, cuma ajaran Ibu dulu, jangan dibiasakan minjam ke bank”, terdengar suara Syahrul masih berseloroh.

Yah jelaslah Bang Syahrul ogah pinjam ke bank, kalau pinjam ke bank telat atau ga bisa bayar, yang ada diburu tukang pukul, mana pakai jaminan surat-surat lagi. Bisa disita mobil atau rumah. Paijo mulai kesal.

“Kalau misal ga kepake duitnya mah, pasti Pak De pinjamkan”, sahut Ayah Paijo.

“Yah wiz kalo gitu Pak De, misalkan nanti kalau Pak De ada kelonggaran, tolong kabari Arul yah Pak De”, terdengar suara Syahrul mencoba memberikan jurus terakhir.

Selang beberapa menit, Paijo mendengar sepupunya dan sang istri berpamitan. Lalu buru-buru Paijo menghampiri Ayahnya.

“Pak, dulu emangnya pernah minjem? Sudah dibayar belum?”, tanya Paijo blak-blakan.

“Belum Jo, kalau liat dari gelagatnya sih, ini kan mau pinjem lagi, jadi kemungkinan utang yang kemarin juga diundur bayarnya”, jelas Ayahnya.

“Pak, ingat, kalau utang bayarnya dimundurin, itu tanda-tanda awal orangnya bakal susah bayar. Bang Arul punya toko, punya rumah gedong, punya kontrakan kios, mobilnya gahar, masa minjem sama Bapak yang cuma naek motor jadul”, celoteh Paijo sambil geleng-geleng bingung.

“Iya, makanya Bapak ga mau minjemin lagi”, jawab Bapaknya singkat seraya masuk ke dapur.

 

Demikian sekilas kisah Paijo. Pernah mengalami kejadian serupa?

Istilah kredit sudah mendarah daging di tengah masyarakat saat ini. Well, sebetulnya sudah dari dulu. Tapi seiring perkembangan jaman, metodenya lebih canggih, dan nilainya pun menjadi setara rumah (KPR, KPT, KPM, dstnya). Dulu, kita kenal dengan istilah “kredit panci”, di mana Ibu-ibu tergoda untuk membeli produk rumah tangga. Sekarang, hampir seluruh lapisan masyarakat, dari pedagang sampai karyawan, dari yang muda sampai tua, bersahabat baik dengan kredit.

Punya motor 3 unit, kredit. Punya mobil baru 2 unit, kredit. Punya rumah, kredit. Beli HP baru di toko online, kredit. Siapa yang tidak tergoda? Barang yang kita inginkan bisa diperoleh saat itu juga, tanpa harus punya dana cukup. Sebenarnya, sah-sah saja memilih cara pembayaran kredit. Di saat-saat tertentu, kita memerlukannya. Sebagai contoh, saya beberapa kali menggunakan kartu kredit untuk pembayaran online, membayar akomodasi saat travelling, sampai membeli tiket pesawat mudik. Sebagian besar karyawan di perkotaan, mempunyai kartu kredit wajib hukumnya. Tapi ingat, saat kita memilih metode kredit, kita harus sadar betul bahwa pemakaiannya tidak melebihi pemasukan bulanan.

Saya pribadi berprinsip, tidak akan menggunakan metode kredit, kalau tidak terpaksa. Ini mungkin didikan orang tua dari kecil. Jangan pernah berhutang. Yap, istilah gamblangnya adalah hutang. Kredit adalah hutang. Entah itu berhutang ke bank, ke tukang panci, ataupun ke instansi penyedia barang dan jasa tertentu. Sama seperti saya, mungkin smart reader berteman atau bersaudara dengan para pelaku kredit. Atau bahkan kita sendiri sekarang sedang terlilit kredit? Coba kita pertimbangkan baik-baik, hampir semua pelaku kredit, berhutang untuk membeli barang, yang sebenarnya mereka tidak butuh-butuh amat. Contoh, bisa naik sepeda, inginnya punya motor, akhirnya kreditlah motor. Sanggupnya beli motor, maunya ga kepanasan, akhirnya kreditlah mobil. Belum punya penghasilan mapan, memutuskan menghamili anak orang, akhirnya kreditlah rumah, demi gengsi depan sang mertua. Hadeeuuuuhhhh……..

Yang paling parah, pernahkah smart reader bertemu sebuah keluarga, yang penghasilannya minim, tapi terlihat menjalani hidup dengan mewah. Setelah dicek ricek, ternyata hampir sebagian besar hartanya masih kredit. Kalau ditelaah lebih jauh, apa yang dikredit hampir semuanya untuk kepentingan gengsi dan status sosial semata. Ketika butuh uang, mereka akan mencari pinjaman ke teman, saudara, tetangga, atau bahkan ke orang yang sebenarnya tidak terlalu dekat. Mereka tidak bisa cari pinjaman ke bank, karena hartanya sendiri hasil kredit dari bank. Baik secara langsung maupun tidak langsung, saya berhubungan dengan banyak pelaku kredit seperti itu. Ketika mereka mendapat pemasukan, otomatis mereka menggunakannya untuk menutupi kredit di bank terlebih dahulu, alih-alih membayar hutang kepada teman atau saudaranya. Disitulah drama hutang tidak dibayar-bayar akan dimulai, dan bibit persengketaan atau renggangnya sebuah hubungan terjadi.

Smart reader, pertama-tama, bijaklah dalam memanfaatkan fasilitas kredit. Gunakan prinsip: “Belilah apa yang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan”. Janganlah mengambil keputusan yang berada diluar kemampuan finansialmu. Walaupun hidup sederhana, namun tidurmu akan lebih tenang. Yang kedua, bijaklah saat memutuskan untuk memberi pinjaman kepada orang lain. Sekalipun ia sahabat dekatmu atau saudara kandungmu. Memang betul kita harus tolong-menolong. Tapi akan sangat baik, bila kamu memperhatikan apa sebetulnya kebutuhan orang tersebut. Apakah mereka “harus” ditolong? Apakah mereka sedang menjerumuskan dirinya sendiri dengan berhutang untuk sesuatu yang tidak penting-penting amat?

Saat kamu memutuskan untuk memberi pinjaman, kamu jangan heran, kalau orang tersebut akan kembali saat ada kebutuhan lain. Mengapa? Karakter dasar seseorang yang suka berhutang adalah, satu kali berhutang, ia akan berhutang lagi. Satu kali diberi, ia akan meminta lagi. Itu sudah rahasia umum yang perlu kamu pahami. Selain itu, berilah pinjaman, senilai kesanggupanmu menerima kenyataan, saat orang yang meminjam tidak sanggup/tidak mau membayar. Pastikan juga kesehatan jantung, tekanan darah, dan kondisi psikologismu. Kok sampai gitu? Berdasarkan pengalaman, bukan hanya orang berhutang yang sulit tidur dan berujung terserang penyakit, namun orang yang memberi hutang pun akan resah, apalagi bila uangnya tidak juga kembali. Karena di mana hartamu berada, di situlah hatimu.

Yang paling penting, katakan TIDAK pada HUTANG!

About cba

write thoughts anytime i feel like it

Discussion

No comments yet.

What do you think? Leave a Comment Below.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: