//
you're reading...
21menit

Waktunya Meninggalkan WhatsApp?

Beberapa hari ini santer diberitakan rencana Mark Zuckerbeg, selaku pendiri Facebook, untuk menggabungkan aplikasi WhatsApp, Facebook Messenger dan Instagram. Seperti yang kita tahu, ketiga aplikasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sebagaimana dimaksudkan masing-masing pendirinya. Facebook Messenger, dipakai sebagai aplikasi chat, antar sesama pemilik akun Facebook. Kemudian ada WhatsApp, yang bisa dibilang menjadi aplikasi chat paling tenar bagi pengguna iPhone maupun Android, karena kesederhanaan penggunaannya. Cukup dengan nomor handphone, semua orang bisa chatting dengan WhatsApp. Sementara Instagram, lebih ditujukan sebagai platform berbagi moment dan comment, dalam bentuk foto maupun story, dengan tetap menyelipkan fitur chat di dalamnya. Lalu, apa yang dimaksud Zuckerberg dengan menggabungkan ketiganya?

Sedikit flashback, sebelum 2 aplikasi lainnya beredar di masyarakat, Facebook tergolong salah satu sosial media “tertua” yang dirintis oleh Zuckerberg pada tahun 2004. Facebook Messenger sendiri baru muncul pada tahun 2011, 7 tahun kemudian. Hal ini merupakan upaya Zuckerberg agar Facebook tetap mengikuti perkembangan jaman, menyusul kemunculan WhatsApp pada tahun 2009, dan Instagram pada tahun 2010. Dalam waktu yang cukup singkat, WhatsApp dan Instagram mencuri minat warganet, karena fungsi yang ditawarkan memang sesuai dengan kebutuhan dan selera pengguna. Namun, Zuckerberg yang lebih dulu bermain di dunia sosial media, tentunya berpengalaman membaca pasar dan jauh lebih “mapan” secara finansial, dibandingkan 2 aplikasi lainnya yang baru seumur jagung. Facebook yang bertahun-tahun mengalami masa kejayaannya, sempat membawa Zuckerbeg menjadi salah satu orang terkaya versi majalah Forbes. Berbekal pengalaman dan kemapanan tersebut, Zuckerberg berhasil mengakuisisi Instagram pada tahun 2012, lalu disusul dengan akuisisi WhatsApp pada tahun 2014.

Karena hal tersebut, banyak kalangan menganggap Zuckerberg ingin memonopoli sosial media. Untuk meredam rumor kala itu, ia berjanji akan membiarkan Instagram dan WhatsApp berjalan masing-masing secara mandiri. Sebagaimana lidah tak bertulang, seiring waktu janji itu mulai bengkok. Mulai dari upaya memunculkan posting Instagram di halaman Facebook secara otomatis, hingga keputusan Zuckerberg untuk menjejali Instagram dan WhatsApp dengan iklan, karena meningkatnya jumlah pengguna.

Beberapa tahun terakhir ketenaran Facebook memang sudah pudar bila dibandingkan kedua aplikasi lainnya. Puncaknya terjadi setelah pemberitaan skandal Cambridge Analytica pada Desember 2015 lalu. Melihat keadaan tersebut, sebetulnya wajar bila Zuckerberg berusaha “menyelamatkan” Facebook agar tetap bisa “exists”, untuk bersanding bersama WhatsApp dan Instagram. Diberitakan pada laman Kompas, rencana penggabungan Facebook Messenger dengan 2 aplikasi kompetitornya itu pun bukan berarti ketiganya menjadi 1 aplikasi, tetapi lebih kepada integrasi sistem backend-nya. Nantinya, pengguna Facebook Messenger bisa mengirim pesan ke WhatsApp dan sebaliknya. Demikian pula halnya dengan Instagram, penggabungan akan lebih ke sistem “komunikasi” antar keduanya.

Menanggapi berita tersebut, muncul pendapat kontra di berbagai kalangan. Namun pendapat kontra, rasanya tidak akan membuat warganet yang sudah kecanduan WhatsApp dan Instagram, buru-buru meninggalkan keduanya hanya karena upaya penggabungan. Metode penggabungan yang direncanakan rampung pada akhir 2019 tersebut, tentunya akan dibuat “sehalus” mungkin agar pengguna tidak kaget. Sebagai contoh, ketika WhatsApp menambahkan fitur “Status”, yang sebelumnya melekat pada Facebook, pengguna tidak terganggu karena mereka bebas untuk menggunakannya atau tidak. Bahkan mungkin ada pengguna yang justru “happy” dengan fitur tersebut.

Penambahan fitur ini itu tentunya berpeluang membuat aplikasi bertambah berat. Sebagai contoh, saat ini WhatsApp dikenal sebagai aplikasi chat dengan jumlah pengguna nomor 1 karena sifatnya yang ringan, sederhana, dan gratis. Bila Zuckerberg bersama timnya mampu membuat aplikasi tersebut tetap ringan, sembari menambah fitur yang memikat, pendapat kontra yang beredar saat ini nantinya hanya berita semata. Sebaliknya, bila penggabungan tersebut tidak menjawab kebutuhan, bisa saja WhatsApp ditinggalkan, dan pengguna beralih ke aplikasi chat lain, contohnya Telegram.

Sampai hari ini, aplikasi WhatsApp yang kita pakai masih digratiskan, sehingga kewenangan inovasi dan perubahan apapun adalah hak pengembang. Kalaupun suatu hari Zuckerberg memutuskan untuk membuat ketiga aplikasi tadi menjadi satu, itu adalah wewenang beliau dan tim direksinya. Kita bebas memilih ingin memakainya atau tidak. Toh kenyataannya, jumlah pengguna menentukan apakah aplikasi tersebut mampu bertahan atau tidak. Zuckerberg yang lebih dari satu dekade berkecimpung dalam bidang sosial media, tentu sangat memahami karakteristik pengguna, hingga mengambil resiko perubahan yang ia anggap perlu.

So, no need to worry about these changes, the will is on your fingertip.

About cba

write thoughts anytime i feel like it

Discussion

No comments yet.

What do you think? Leave a Comment Below.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: