//
you're reading...
Cerpen

Bernama SiSi

*narasi ini adalah fiktif, bila ada kesamaan nama, peristiwa, dan keadaan, bukan hal yang mustahil, karena hidup seperti sandiwara, dan sandiwara diciptakan karena hidup manusia di panggung dunia

 

Perempuan itu bernama SiSi.
Rambutnya panjang, sedikit melebihi bahu.
Tubuhnya tinggi semampai.
Badannya berisi, tidak gemuk, dan tidak kurus.
Kulitnya bersih, jelas ia rajin melakukan perawatan.
Saat berjalan, ia tidak menunduk, tapi mengangkat wajahnya dengan tegas.
Dengan postur tubuh seperti itu, mereka bilang ia cocok menjadi model.

Ia bukan perempuan dengan latar belakang ekonomi pas-pasan.
Keluarganya mapan, dan ia cukup berpendidikan.
Kataku, ia seperti kutu buku.
Terlihat dari kacamata yang bertengger di telinganya.
Ia suka membaca dan mengoleksi berbagai majalah.
Ia perempuan yang supel, ia suka berbincang dan mengenal tetangganya.

Kenangan itu yang kuingat tentangnya, ketika aku masih pelajar.
Lalu aku pergi, mencari ilmu baru di kota besar.

Beberapa tahun berselang. Aku beranjak dewasa.
Aku mendengar kabar, ia punya kios baju di sudut pasar.
Di usianya yang hampir 40 tahun, ia masih melajang.
Dengan penampilan dan pembawaan dirinya, mungkinkan kaum pria terintimidasi?

Mereka yang tidak mengenalnya, akan mengatakan, ia sombong.
Ia pendiam dan kaku.
Padahal, tidak begitu seingatku.
Apakah waktu dan usia merubah wataknya?
Aku tidak tahu.
Terakhir aku bertemu dengannya, di sebuah gereja.
Ketika itu, aku sedang pulang, menengok ibu yang lama kutinggal.
Ia menyapa ibuku, juga menanyakan kabarku.
Kami bertukar cerita sesaat.
Ia masih seramah yang aku ingat.

Lalu aku kembali ke kota, tempat mencari nafkah dan sukacita.
Di sana, roda berputar cepat, tak kenal lelah.
Bahkan, kalau tak berhenti sejenak, aku bisa lupa.
Lupa kenapa aku ada di situ.
Hingga suatu hari…..kudengar kabar itu.

“SiSi meninggal, gantung diri, ada di Harian Embun.”
Aku menyimak cerita ibuku.
Aku mencari artikel tentang berita itu.
Kata tetangga sekitar, mereka mendengar jeritan.
Polisi bilang, ia meninggal bunuh diri.
Di tangannya, secarik kertas tertulis pesan terakhir.
Ia meminta maaf, dan meninggalkan sejumlah hutang.
Hutang yang menurutku sangat sedikit.
Hutang, yang menurutku, tidak mungkin menjadi alasan ia bunuh diri.

Antara percaya dan tidak, itu yang terjadi.
Mereka yang hidup, dibiarkannya bertanya-tanya.
Mengapa? Kenapa?
Beban apa yang dirasakannya?
Mungkinkah kesendirian membuatnya merana?
Tapi kupikir, bukankah itu pilihan hidupnya?
Mungkin juga rasa malu, akan cibiran keluarga dan tetangga.
Atau mungkin, masalah lain yang dipendam hatinya.
Mereka tidak tahu.

Seiring dengan waktu, tragedi itu berlalu.
Cerita dan kisahnya, hilang dari benakku.
Sampai suatu saat, seorang teman berkata.
Manusia mungkin bunuh diri, karena ia tidak mencari apa-apa.
Manusia mungkin gantung diri, karena tidak menemukan alasan kenapa harus hidup.
Manusia mungkin mengakhiri diri, karena tidak ada tujuan yang dicarinya.

Perempuan itu bernama SiSi.
Setelah sekian lama, aku tidak lagi mengenalnya.
Namun, satu cangkir kopi bersama sahabat, membuatku mengingatnya.
Mengingat, apakah ia merasa kesepian di antara keramaian.
Mengingat, apakah ia kehilangan sesuatu, yang tidak dimengerti keluarganya.
Mengingat, apakah ia larut dalam pikiran, yang melenyapkan nyawanya.
Apapun itu, kini aku kembali memikirkannya.

Perempuan itu, bernama SiSi…

About cba

write thoughts anytime i feel like it

Discussion

No comments yet.

What do you think? Leave a Comment Below.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: