Who You Become?

It is not the first time I hear that “people around you influence who you become”. Bahkan seorang motivator asal Amerika, Jim Rohns, berpendapat bahwa kita adalah gabungan dari lima pribadi, yang paling sering menghabiskan waktu bersama kita. Beberapa orang mungkin tidak setuju dengan opini tersebut. Jika seseorang berkarakter kuat, mestinya ia tidak mudah terpengaruh, meskipun berada di lingkungan yang katakanlah, surrounded by toxic people. Sebaliknya, bila tidak punya motivasi kuat dari dalam, belum tentu orang tersebut akan berhasil, meskipun berada di antara orang-orang sukses. But then i started questioning myself, if the quote can be that famous, there must be a reason behind it right? Saya mulai melihat realisasi opini tersebut, dengan fakta dan pengalaman yang saya alami.

planningBeberapa waktu lalu, saya sempat bekerja di lingkungan yang sangat hectic, almost no room for errors. Jika kamu adalah seorang konsultan yang bekerja untuk klien besar, mungkin kamu paham maksudnya. Sebagai seorang konsultan, on time and on point solution delivery, adalah hal yang sangat penting dijaga. Saya dan tim bekerja lebih dari 12 jam setiap hari, bahkan ketika hari libur. Setelah beberapa kali terlibat dalam proyek dengan ritme kerja seperti itu, perlahan karakter saya terbentuk dengan pola yang serupa. Dari segi positif, saya menjadi pribadi yang lebih terstruktur, dan lebih percaya diri, bahwa segala sesuatu bisa dilakukan. Namun di sisi lain, saya menjadi pribadi yang cenderung demanding dan ingin segala sesuatu selesai dengan sempurna, bahkan di luar lingkungan kerja. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti. Minggu-minggu awal di masa istirahat, I totally didn’t know what to do, I’ve just realised that I have no life other than my work.

Contoh yang lebih sederhana. Ibu saya adalah seorang vegetarian. Karena beliau adalah penguasa dapur, dari kecil kami jarang makan daging. Namun ketika itu, berhubung anak-anaknya masih belajar dan bertumbuh, beberapa kali dalam seminggu, Ibu menyajikan masakan laut, entah itu ikan, udang, atau cumi. Jika kami ingin makan daging ayam atau sapi, kami akan “jajan” di luar. Hal tersebut berlangsung hingga kami dewasa. Saat ini, lidah saya hanya mentolerir menu sayur dan seafood, tanpa daging merah. Tanpa disadari, saya telah menjadi seorang peskatarian, karena tumbuh di lingkungan seperti itu.

peopleMasih banyak contoh lain yang membuat saya bisa relate dengan pernyataan Jim Rohns tersebut. Seperti misalnya, saya lebih responsive berkomunikasi dalam bahasa Inggris selama 3 tahun bekerja di perusahaan asing, dibanding ketika bekerja di perusahaan lokal selama 5 tahun. Saya cenderung menjadi pribadi yang konsumtif dan berekspektasi tinggi terhadap segala sesuatu, ketika hidup di ibu kota. Namun sebaliknya, saya hidup lebih rileks dan tidak banyak keinginan ini itu, ketika tinggal di kota yang penduduknya hobi menikmati suara burung berkicau, daripada berburu diskon di mall.

Memang betul, menjadi seperti apa seseorang, tergantung pada pilihan yang ia ambil selama hidupnya. Namun pilihan tersebut bisa berbuah hasil, atau malah kandas di tengah jalan, jika orang tersebut tidak berada di lingkungan yang tepat. Mahasiswa yang ingin lulus cepat dan kumlaud, tentunya tidak ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman yang sering bergadang main game sampai pagi. Seseorang yang hobi komputer dan teknologi, akan sering terlihat bersama para geek lainnya, alih-alih minum kopi bersama para pelukis. Kalau saya ingin fasih berbicara Mandarin dalam waktu singkat, cara paling mumpuni adalah saya tinggal di antara orang-orang yang menggunakan bahasa tersebut setiap harinya.

Secara naluri, kita cenderung menempatkan diri di lingkungan yang “sama” dengan kita, yaitu lingkungan yang membuat kita merasa nyaman. Seiring dengan waktu, ketika kita terjebak dalam rutinitas dan zona nyaman, kita lengah dan lupa, apakah kita sudah berada di jalur yang benar? Apakah kita sudah menempatkan diri dalam lingkungan yang mendukung tujuan-tujuan yang ingin kita capai? Apakah kita sudah memilih bergaul dengan komunitas yang mengerti nilai-nilai kita? Yang membuat kita naik tingkat, atau justru diam di tempat?

Sesekali, kita perlu bertanya, bagaimana pengaruh orang-orang di sekitar kita saat ini. Apakah mereka membuat kita merasa baik? Apakah mereka memberi motivasi dan nilai positif dalam hidup? Atau sebaliknya, bersifat negatif dan destructive? Seperti kata pepatah, misery loves company…so does success. Jika lingkungan saat ini tidak menginspirasi dan mendorong kita mendekati tujuan dan nilai-nilai yang ingin kita capai, kita perlu meng-upgrade lingkungan tersebut. Apakah itu membuat kita egois? Well, menuju sesuatu yang baru, bukan berarti kita memutuskan hubungan dengan yang lama. So, it depends on how you do it. But actually, when you are living with toxic people, it is necessary to be egoistic!

What do you think? Leave a Comment Below.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Up ↑

%d bloggers like this: