Menghargai Rupa Melupakan Faedah

Memelihara ayam atau burung, merupakan hal lumrah yang dilakukan oleh warga sekitar rumah gw. Terutama, warga asli daerah situ. Yang gw maksud asli, artinya mereka sudah menetap di wilayah tersebut, dari jaman nenek buyutnya. Tapi, bukan nenek buyut yang akan gw bahas di sini.

Gw mau menceritakan kisah tetangga depan rumah gw, sebut saja Pak Enggan. Pak Enggan memiliki seorang istri bernama Bu Kelewatan. Mereka dikaruniai seorang putra yakni Seudelne, yang seharusnya berada di bangku sekolah menengah pertama. Gw bilang seharusnya, karena Seudelne sudah tidak bersekolah lagi. Seudelne sering berkelahi, sampai akhirnya dia dikeluarkan oleh pihak sekolah. Setelah kejadian tersebut, Seudelne tidak mau sekolah lagi. Entah karena anaknya yang terlalu membangkang, atau orang tuanya yang bersikap sebodo amat, akhirnya mereka membiarkan Seudelne tidak melanjutkan pendidikan. Keluarga Pak Enggan memang berlatar belakang ekonomi pas-pasan. Mungkin juga, alasan itu yang membuat beliau menyetujui kemauan anaknya.

Sehari-hari, Pak Enggan berjualan timun untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Bisa dibilang, mereka hampir tidak pernah menikmati daging sapi atau kambing, kecuali di hari raya Idul Adha. Namun mereka memiliki 3 ekor ayam betina, dan seekor burung hias. Kalau gw perhatikan, ayam-ayam yang dipelihara Pak Enggan, sudah beberapa kali bertelur. Kenapa gw bisa tau? Apakah gw maling yang mengintai ayam milik tetangga?

Ayam-ayam tersebut sering masuk ke halaman samping rumah gw, yang kebetulan memang tidak dipagar karena belum dibangun. Mereka sering berteduh di bawah pohon mangga, pohon coklat, atau pohon ceremai yang ada di halaman tersebut. Tampaknya ayam-ayam itu lebih “betah” di rumah gw, daripada di rumah majikannya. Bahkan pernah suatu kali, seekor ayam tidak pulang berminggu-minggu, dan “menginap” di dahan pohon coklat samping rumah. Kenapa bisa begitu? Baik Pak Enggan maupun istrinya, tidak mau menyediakan kandang untuk ayam-ayam mereka. Lalu di mana ayam-ayam tersebut beristirahat? Mereka mengemper di atas tumpukan kayu bakar yang tersusun menempel di dinding rumah Pak Enggan. Menjelang malam, ayam-ayam tersebut melompat ke atas kayu untuk beristirahat. Tidak ada sisi pembatas ataupun pelindung, yang menjaga mereka dari terpaan angin malam. Boro-boro atap, mereka hanya mengandalkan genteng rumah yang tidak cukup lebar untuk berteduh. Kalau musim hujan, sudah pasti ayam-ayam tersebut basah kuyup. Itu baru 3 ekor, bayangkan bagaimana repotnya si induk ayam, saat baru menetaskan 10 telur. Suara riuh ayam saling mematok untuk berebut tempat, sudah sering gw dengar. Jadi tidak heran, kalau ada ayam yang malas pulang.

Ketika salah seekor ayamnya tidak kembali, Bu Kelewatan tidak kuatir dan mencari-cari. Beliau sudah tahu betul, bahwa ayam tersebut “ngontrak” di pohon coklat samping rumah. Menjelang hari raya Idul Fitri, baru Bu Kelewatan nyamperin ke rumah gw, untuk mengambil ayamnya. Itupun sambil berceloteh bahwa ayam tersebut sepertinya sudah mulai bertelur. Sayangnya emak gw orang yang terlalu baik hati, sehingga beliau tidak berkomentar apa-apa. Kalau gw yang ditanya, pasti gw jawab: “Bu, saya ga pernah liat ada telur, kalo tai-nya banyak noh di halaman. Ibu mau?”

Berbeda dengan nasib si burung hias. Tentu saja, burung tersebut diberi sangkar agar tidak kabur, walaupun burung tersebut tergolong burung hias yang murah. Kicaunya pun tidak seriang burung milik tetangga sebelahnya. Mungkin karena dia kesal terkurung tanpa teman. Setiap pagi, Pak Enggan atau Seudelne rajin menengok burung tersebut. Setelah dimandikan, burung tersebut dijemur dan diberi makan. Jelas sekali, mereka sayang terhadap hewan peliharaannya yang satu itu.

Memang nasib makhluk hidup di dunia ini berbeda-beda, termasuk hewan. Ada yang berlenggang bebas tanpa kuatir diburu dan dimakan, seperti kucing, cicak, atau burung gereja. Namun ada pula yang seumur hidup harus bekerja keras dan mengumpulkan makanannya sendiri, sampai akhirnya meregang nyawa di meja dapur. Contohnya yah si ayam tadi. Kalau kita perhatikan kisah Pak Enggan dan Bu Kelewatan di atas, disadari atau tidak, manusia sering memperlakukan hewan peliharaannya, tanpa mengukur nilai manfaat. Memang betul, kasta ayam kampung jauh di bawah burung hias, karena faktor harga misalnya. Namun menurut kalian, apakah manfaat burung hias bagi keluarga Pak Enggan di atas? Tidak ada.

Mungkin para pecinta burung akan menjawab, mereka bisa menikmati kicauan burung di pagi hari, mereka mendapat kepuasaan dan seterusnya. Tapi gw menjawab seperti itu, berdasarkan keadaan hidup keluarga Pak Enggan. Jika kalian menyimak cerita gw di atas, kalian akan tahu bahwa di lingkungan gw, setiap pagi selalu terdengar suara kicauan burung. Mulai dari burung bebas, sampai burung hias yang dipelihara oleh tetangga sekitar. Jadi alasan untuk menikmati suara kicau burung bukanlah manfaat yang mendasar. Selain itu, alih-alih mendapatkan sesuatu, Pak Enggan justru perlu menyisihkan sebagian uang hasil jual timun, untuk membeli makanan burung.

Bandingkan dengan nasib ayam miliknya, yang tidak diberi tempat berteduh secara layak, apalagi diperhatikan kesehatannya. Setiap pagi, ayam-ayam itu pergi mencari makanannya sendiri, atau sesekali mendapat “rejeki” nasi basi dari tuannya. Dengan kata lain, keberadaan ayam tersebut hampir tidak membebani Pak Enggan. Namun demikian, Pak Enggan dan keluarganya bisa menikmati telur ayam kampung segar, ataupun sesekali menikmati sajian ayam goreng di menu hariannya. Jika anak-anak ayamnya sudah cukup umur, Pak Enggan memperoleh duit tambahan dari hasil penjualan beberapa ekor ayam.

Mengambil hikmat dari cerita Pak Enggan di atas, gw rasa tidak sedikit manusia yang pernah melakukan hal tersebut tanpa menyadarinya. Kita menghargai sesuatu, hanya karena kita merasa sayang, entah karena keindahan atau kesenangan yang bisa kita dapatkan. Di sisi lain, kita meremehkan hal-hal, yang justru bermanfaat atau berfungsi besar dalam kehidupan kita. Sebagai contoh, berapa banyak dari kalian yang menghabiskan uang untuk melakukan perawatan wajah atau rambut? Namun di saat bersamaan, kalian sering mengkonsumsi junk food, minum sembarangan, merokok berlebihan, dan seterusnya dan seterusnya…..

Intinya, sebagai manusia, kita terkadang lupa untuk menghargai apa yang penting. Kita terkecoh pada kesenangan atau keindahan semata. Sesekali kita perlu berhenti sejenak, lalu mengkaji ulang, apakah ada hal-hal kita abaikan, apakah kita terlalu sibuk dengan hal-hal tidak penting. Tidak salah bila kita ingin merasakan kesenangan dan menikmati keindahan. Namun, hidup akan menjadi lebih harmonis, bila kita bisa menyeimbangkan keduanya.

Salam.


 

What do you think? Leave a Comment Below.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Up ↑

%d bloggers like this: